Dari Lamno untuk Langit Indonesia: Komunitas Ruang Gerak Belajar dari Maestro Patriot Transportasi Udara Teungku Nyak Sandang

Aceh Jaya – Perjalanan Komunitas Ruang Gerak menuju Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, menjadi lebih dari sekadar agenda Safari Ramadhan. Niat awal menunaikan shalat dzuhur berjamaah dan mengaji di Masjid Nyak Sandang berubah menjadi pengalaman sejarah ketika rombongan berkesempatan bertemu langsung dengan tokoh bangsa, Teungku Nyak Sandang, Minggu, (01/03/2026).

Di lingkungan masjid yang sarat nilai sejarah itu, rombongan disambut keluarga tokoh yang akrab disapa Ayah Sandang. Tim kemudian diajak ke kediamannya untuk bersilaturahmi sekaligus mendengar langsung kisah perjuangannya pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Bacaan Lainnya

Dalam pertemuan tersebut, Ayah Sandang menceritakan pengalamannya saat berusia 21 tahun menyaksikan kunjungan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, bersama Gubernur Aceh pertama Muhammad Ali Hasjmy, yang berpidato di Masjid Baiturrahman Lamno. Dalam pidato itu, Presiden meminta dukungan rakyat Aceh untuk membantu membeli pesawat bagi negara yang baru merdeka.

Seruan tersebut menggugah hati pemuda Nyak Sandang. Ia kemudian meminta izin kepada orang tuanya untuk menjual sebidang kebun keluarga di Pulo Raya, Lhok Kruet, seharga dua ratus rupiah — nilai yang pada masa itu sangat besar — untuk disumbangkan kepada negara.

Sumbangan rakyat Aceh, termasuk dari Nyak Sandang, menjadi bagian penting dalam pengumpulan dana pembelian pesawat pertama Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Seulawah RI-001, simbol awal diplomasi udara Indonesia.

Puluhan tahun berselang, Ayah Sandang akhirnya bertemu Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam pertemuan tersebut, ia menegaskan bahwa sumbangannya tidak pernah ia anggap sebagai hutang negara. Ia hanya berharap perhatian pemerintah terhadap dirinya sebagai bagian kecil dari sejarah perjuangan bangsa.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan tiga permintaan sederhana kepada negara, yakni operasi mata, kesempatan menunaikan ibadah haji atau umrah, serta pembangunan masjid di kampungnya yang kini dikenal sebagai Masjid Nyak Sandang di Desa Lhuet, Lamno.

Kepada generasi muda, Ayah Sandang berpesan agar selalu mengingat akhirat dan rajin bersedekah. Pesan tersebut disampaikan dengan ketulusan, menjadi rangkuman perjalanan hidup seorang tokoh yang memadukan kecintaan kepada bangsa dan keteguhan iman.

Bagi Komunitas Ruang Gerak, kunjungan ini menjadi perjalanan batin yang mempertemukan generasi muda dengan teladan nyata pengabdian. Sosok Nyak Sandang membuktikan bahwa kontribusi besar bagi bangsa dapat lahir dari kesederhanaan dan niat yang tulus.

Dari Lamno yang sederhana, pernah lahir pengorbanan besar yang membantu Indonesia menapaki langitnya sendiri. Semangat kebangsaan yang ditunjukkan Ayah Sandang menjadi simbol kecintaan rakyat Aceh kepada Republik Indonesia sekaligus pengingat bahwa sejarah bangsa dibangun oleh ketulusan orang-orang yang mungkin tak selalu tercatat dalam buku pelajaran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *