Banda Aceh – PUSAKA (Pusat Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam di Aceh dan Alam Melayu) UIN Ar-Raniry dan MAPESA (masyarakat peduli sejarah Aceh) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Masa Depan Penelitian dan Pelestarian Warisan Sejarah Kebudayaan Islam di Aceh”, Kamis, (15/01/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini diikuti oleh perwakilan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), dosen-dosen UIN Ar-Raniry yang tergabung dalam PUSAKA, serta mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan.
FGD tersebut secara resmi dibuka oleh Direktur PUSAKA UIN Ar-Raniry, Sanusi. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya ruang-ruang diskusi ilmiah sebagai upaya kolektif untuk merawat, meneliti, dan menjaga kesinambungan sejarah Aceh secara akademik dan berkelanjutan.
Sanusi menjelaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga antara perguruan tinggi, komunitas sejarah, dan mahasiswa menjadi sangat krusial agar upaya penelusuran dan penelitian sejarah masuknya Islam di Aceh dapat dilakukan secara lebih komprehensif. Menurutnya, selama ini kajian sejarah Aceh masih banyak bertumpu pada peninggalan berupa batu-batu nisan, mengingat banyak artefak sejarah lainnya telah hilang atau rusak dimakan waktu. Oleh karena itu, gerakan kolaboratif seperti FGD ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memastikan sejarah Aceh tetap terjaga dan tidak terputus dari generasi ke generasi.
Sementara itu, perwakilan MAPESA menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya diskusi tersebut. Mereka mengaku sangat menyambut baik forum-forum ilmiah seperti ini karena sejalan dengan kerja-kerja pelestarian sejarah yang selama ini telah dilakukan. MAPESA sebelumnya telah beberapa kali melaksanakan kegiatan penelusuran peninggalan sejarah Islam Aceh yang dikenal dengan sebutan MESERAYA, yakni kegiatan pencarian dan perawatan batu-batu nisan bersejarah guna menjaga nilai-nilai sejarah Aceh.
Ke depan, MAPESA juga berencana menggelar kegiatan MESERAYA di Kabupaten Aceh Jaya sebagai bagian dari upaya lanjutan penelusuran jejak sejarah Islam Aceh. Mereka berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemetaan sejarah Islam Aceh sekaligus memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian peninggalan sejarah.
Diskusi kemudian terus berlanjut dengan pertukaran gagasan antar peserta. Dalam sesi tersebut, perwakilan MAPESA berharap agar jaringan akademisi, dosen, dan peneliti yang terbangun melalui forum FGD ini dapat membuka ruang komunikasi dengan pemerintah. Menurut mereka, diperlukan sebuah lembaga atau pusat kajian khusus yang secara fokus mengkaji, meneliti, dan mendokumentasikan seluruh sejarah Aceh agar upaya pelestarian dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Selain itu, salah seorang dosen peserta FGD menyampaikan harapannya agar sejarah Aceh tidak hanya berhenti pada diskusi dan penelitian, tetapi juga dapat dituliskan secara sistematis dalam bentuk buku. Ia menilai, penulisan sejarah Aceh menjadi sangat penting agar generasi muda, khususnya anak-anak Aceh, dapat mengenal dan memahami sejarah daerahnya sendiri.
Ia turut menyoroti fenomena berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan bahasa daerah. “Hari ini kita melihat banyak anak-anak Aceh yang tidak lagi fasih berbahasa Aceh, sementara daerah lain seperti Jawa memiliki buku sejarah sendiri yang diajarkan sejak dini. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar sejarah Aceh dapat ditulis dan dijadikan bagian dari bahan ajar di sekolah,” ujarnya.





