Temui Wali Kota, Aliansi Mahasiswa Lhokseumawe Kawal Enam Tuntutan Prioritas

Lhokseumawe – Aliansi Mahasiswa Lhokseumawe yang terdiri dari DEMA UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, DPM Universitas Malikussaleh, dan BEM Politeknik Negeri Lhokseumawe menggelar audiensi bersama Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, di Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Kamis, (07/05/2026).

Audiensi tersebut berlangsung sebagai bentuk kritik dan kontrol sosial mahasiswa terhadap berbagai persoalan daerah yang dinilai belum mendapat penanganan serius dari Pemerintah Kota Lhokseumawe.

Dalam forum tersebut, mahasiswa menyoroti buruknya infrastruktur jalan, sistem drainase yang belum optimal, minimnya penerangan lampu lalu lintas, hingga lambannya penanganan pemulihan pascabanjir yang berdampak langsung terhadap masyarakat.

Aliansi mahasiswa menegaskan pemerintah tidak boleh terus membiarkan persoalan dasar masyarakat menjadi masalah berulang tanpa penyelesaian yang konkret. Kondisi jalan rusak, drainase tersumbat yang menyebabkan banjir, serta fasilitas lalu lintas yang tidak berfungsi dinilai mencerminkan lemahnya perhatian pemerintah terhadap pelayanan publik.

Dalam audiensi tersebut, mahasiswa berhasil mengawal enam tuntutan prioritas kepada Pemerintah Kota Lhokseumawe, yaitu perbaikan infrastruktur jalan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pembenahan drainase guna meminimalisir banjir dan genangan, perbaikan penerangan jalan dan lampu lalu lintas, percepatan pemulihan pascabanjir termasuk pembangunan hunian tetap (huntap), evaluasi menyeluruh terhadap kinerja instansi pemerintahan serta penguatan perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan, hingga evaluasi validitas data bantuan sosial dan kejelasan pendapatan PPPK paruh waktu.

Selain itu, mahasiswa juga mendorong penguatan pelaksanaan Syariat Islam di Kota Lhokseumawe sebagai bagian dari identitas dan nilai daerah.

Presiden Mahasiswa UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Fauzan Azima, menegaskan mahasiswa akan terus mengawal komitmen pemerintah terhadap tuntutan yang telah disampaikan.

“Mahasiswa hadir bukan hanya sebagai penyampai aspirasi, tetapi sebagai pengawas jalannya kebijakan pemerintah. Kami ingin memastikan seluruh tuntutan yang menyangkut kepentingan masyarakat benar-benar direalisasikan, bukan sekadar janji dalam ruang audiensi,” tegasnya.

Aliansi Mahasiswa Lhokseumawe menilai dialog tidak boleh berhenti pada seremonial audiensi semata. Pemerintah Kota diminta segera menunjukkan langkah nyata dan terukur atas seluruh aspirasi yang telah disampaikan.

Audiensi berlangsung secara terbuka dan diakhiri dengan komitmen Pemerintah Kota Lhokseumawe untuk menindaklanjuti tuntutan yang disampaikan mahasiswa.

Pos terkait