Oleh: Syarifuddin Abe
Dalam kajian filsafat, manusia sebagai makhluk bermain atau yang suka bermain dikenal dengan istilah homo ludens. Homo ludens sekaligus sebagai sebuah tesis bagi manusia, bahkan menjadi bagian dari materi Filsafat Manusia untuk dipelajari. Istilah ini pertama sekali diperkenalkan oleh Johan Huizinga pada tahun 1938 dalam bukunya Homo Ludens; A Study of the Play Elementin Culture. Ludens adalah bahasa Latin berarti ‘bermain’, bermain di sini tidak hanya yang mengandalkan fisik atau berupa hiburan saja, namun juga mencakup berbagai aktivitas kreatif lainnya, seperti bermain drama, musik, seni sastra, kesemuanya itu dapat dilihat sebagai sebuah permainan. Biasanya, permainan merupakan bagian dari kebiasaan dan aktivitas kesukaan manusia dan manusia sendiri tidak dapat terlepas dari permainan. Permainan menjadi hobbi setiap manusia. Permainan bagi manusia menjadi salah satu bentuk dalam melepaskan kejenuhan dan kebosanan.
Permainan sudah merupakan bagian dari hidup manusia. Orang yang kreatif biasanya ada saja yang dilakukannya ketika pada suatu suasana dianggap membosankan. Apakah dengan mengusili orang lain atau meciptakan suasana humor yang membuat orang lain tertawa. Yang penting bagi sebagian manusia permainan dapat meningkatkan gairah dan dapat melepaskan kegelisahan dan kepenatan pada sebuah suasana. Orang boleh saja menganggap aneh, tapi bagi orang dengan kreatifitasnya dalam menghilangkan kebosanan menjadi sebuah kewajaran. Menjadi keasyikan tersendiri. Orang seperti ini, biasanya hanya usil untuk dirinya sendiri. Menghibur diri sendiri. Menciptakan permainan di sela-sela waktu yang bosan baginya. Untuk itulah, permainan sudah merupakan sebuah karakteristik yang selalu mendasari dalam sebuah budaya yang dibangun manusia serta sudah menempel sebagai sifat dari manusia.
Manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari yang namanya permainan. Permainan itu lahir dari sebuah keinginan manusia untuk mengisi kekosongan waktu yang sedang dijalaninya. Setiap daerah, pulau, melintasi berbagai tempat dan negara, permainan lahir dengan berbagai ciri khas dan keunikan serta bentuknya. Permainan juga telah menjadi sebuah karakter sebuah bangsa. Setiap bangsa memiliki permainannya sendiri, tergantung dari karakteristik masyarakat yang penuh tradisi dan budaya. Permainan pada sebuah bangsa juga merupakan sebuah ciri dari kemajuan pada bangsa serta sebagai cerminan ketahanan dan kebangkitan dalam menghadapi sebuah dilemma kehidupan.
Ada sebuah pesan, mari kita melakukan sebuah pekerjaan dengan penuh gembira seperti pada saat kita bermain, tapi tidak main-main. Siapa saja yang dapat menguasai permainan, maka dia akan menguasai dunia. Sebagaimana yang disampaikan oleh Huizinga, aktivitas bermain tidak hanya sebagai sebuah hiburan, namun juga sebagai sebuah cara, yang penting dalam menyampaikan sebuah makna, apakah untuk membangun struktur sosial atau untuk mengintegrasikan seorang individu dalam sebuah masyarakat.
Saya kira, tidak ada manusia yang tidak suka bermain. Semua manusia gemar bermain. Apakah itu bermain dalam skala sebagai sebuah aktivitas secara wajar bahkan ada juga yang bermain sampai di luar batas kewajaran. Intinya, semua manusia pasti suka bermain. Ketika kita besar nanti, kita pasti akan mengingat permainan-permainan yang suka kita mainkan pada saat kita kecil. Begitu juga ketika kita masih kecil, kita bercita-cita permainan yang kita mainkan pada waktu kecil ingin berlanjut kita mainkan hingga dewasa kelak. Pada sisi lain, permainan yang kita lakukan ketika dewasa pasti akan berbeda dengan permainan yang kita mainkan pada waktu kita kecil. Namun demikian, ada juga permainan yang ketika kita masih kecil masih juga kita gemari ketika kita sudah dewasa. Hitung-hitung, sebagai sebuah nostalgia atau ingin mengenang kebahagiaan yang pernah dimiliki ketika kita masih kecil.
Bermain tidak memandang usia. Tidak ada senja, tidak ada malam. Semakin orang beranjak dewasa, bahkan semakin tua, orang-orang juga masih gemar bermain. Walaupun skala permainan yang dimainkan terbatas. Bermain adalah sebuah kegemaran dan orang akan bebas bermain apa saja, yang penting dapat menjadikan orang senang dan gembira. Plato, yang merupakan filsuf Yunani juga sependapat, bermain menurutnya dapat mengembangkan imajinasi bahkan dapat membuat seseorang menjadi kreatif, termasuk dapat meningkatkan pemahaman bentuk dengan berasosiasi terhadap sebuah bentuk yang lain, dengan terus meningkatkan pengembangan rasa sosial, toleransi, bahkan dapat juga mengasah kemampuan estetika.
Bermain sudah menjadi karakter bagi manusia. Manusia tidak hanya sebagai sebuah kegemaran, tapi juga menciptakan permainan itu sendiri. Oleh karenanya, menurut Huizinga, bermain lebih tua dari budaya manusia itu sendiri. Harus diakui juga, homo ludens merupakan sebuah konsep yang hadir dan ditemukan dalam bentuk sebuah kebudayaan. Dalam bentuk apapun yang dihadirkan oleh manusia, itulah yang dinamakan kebudayaan. Istilahnya, manusia hanya bergerak, di situlah kebudayaan lahir dan tercipta, termasuk permainan yang dihasilkan oleh kreativitas manusia.
Pada setiap kebudayaan telah menghadirkan bentuk karakter manusia, termasuk manusia sebagai makhluk yang gemar bermain. Bermain sudah merupakan unsur dari salah satu kehidupan manusia. Permainan lahir dari gerak kreatif manusia. Apakah dalam bentuk permainan tradisional atau permainan modern. Permainan itu lahir entah karena manusia bosan, atau manusia terlalu serius. Pada awalnya, permainan hanya dianggap sebatas aktivitas biasa bahkan secara tidak sungguh-sungguh.
Huizinga sangat menolak anggapan yang mengatakan bermain hanya semata-mata mengisi waktu luang atau hanya iseng belaka. Bahasa kasarnya, bermain adalah untuk membunuh kebosanan. Bagi Huizinga, bermain tidak kalah urgennya dengan kegiatan manusia lainnya, sebagaimana berpikir dan bekerja. Bahkan bermain sudah merupakan sebuah gejala alam yang mendahului bahkan menjiwai kebudayaan. Intinya bermain bagi manusia sudah merupakan hal penting bagi manusia dan merupakan salah satu elemen dari kebudayaan. Dalam sebuah masyarakat manapun, di manapun bahkan kapanpun akan terus ditemukan tradisi bermain dan permainan. Mungkin kita akan berkata, “aku bermain, maka aku ada”, atau “aku bermain, maka aku selalu eksis”.
Humor dan Permainan
Manusia adalah makhluk yang unik, saking uniknya manusia menjadi objek yang tidak pernah selesai untuk dibahas dan ditulis. Salah satu keunikan manusia adalah suka bermain dan tertawa. Tertawa di samping milik manusia juga sebagai salah satu ciri yang paling unik yang dimiliki manusia. Tidak hanya permainan, tertawa juga bagian dari kebudayaan. Manusia juga pandai bersenda gurau serta bemain-main. Tertawa sudah merupakan ciri khas manusia, dengan tertawa bahkan orang dapat menebak orang yang tertawa itu. Orang akan tertawa sepanjang waktu dan kesempatan dengan berbagai kesenangan dan kebahagiaannya. Bermain sudah merupakan salah satu aktivitas manusia yang mengasyikkan, apalagi diselingi dengan gelak tawa.
Bermain memerlukan alat agar manusia dapat mengekspresikan permainannya dengan bebas dan puas. Kita tidak akan dianggap gembira atau bahagia, kalau kita tidak pernah bermain. Jika kita tidak memiliki permainan yang kita sukai akan dianggap sebagai penyendiri atau sebagai orang yang tidak memiliki rasa bahagia. Apapun alasannya, setiap orang setidaknya mesti ada satu permainan kegemarannya. Permainan kesukaan manusia biasanya akan dilakukan secara berulang-ulang. Sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Dia akan sakit bila permainan itu sudah lama tidak dilakukannya. Jangan salah, mungkin suatu saat ketika duduk-duduk, ia akan membayangkan sambil tertawa tentang permainan yang dilakukannya waktu kecil dengan teman-temannya.
Apapun permainannya, tujuannya adalah untuk mendapatkan kesenangan. Tanpa kesenangan maka permainan itu boleh saja kehilangan makna. Tidak ada artinya. Bermain dalam sebuah kompetisi, memberikan pengajaran yang sangat berharga bagi manusia. Mengajarkan banyak hal, apakah itu untuk belajar mengerti, belajar mentaati aturan, belajar menghormati orang lain, termasuk belajar memahahi sikap sportifitas, jujur bahkan bertanggung jawab. Tidak hanya sampai di situ, bermain dengan disertai humor juga dapat menghasilkan kesenangan, apalagi dalam permainan itu mengundang tawa. Tertawa adalah sebuah kepuasan dalam sebuah permainan. Menang, akan penuh sorak sorai dengan tawa kemenangan. Kalah, juga akan disertai dengan tawa yang sebaliknya; ditertawakan. Namun jangan marah, sportifitas harus dikedepankan. Tawa di sini bukan cemoohan, tapi bagian dari rasa puas yang ditimbulkan oleh permainan itu.
Tertawa adalah ciri khas manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Tertawa merupakan salah satu bentuk kepuasan yang dimiliki manusia. Tertawa juga memberikan sebuah nuansa tersendiri. Tertawa tidak pernah terjadi dengan mudah, tidak terjadi begitu saja, memiliki unsur yang bersifat anugerah di dalamnya. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang masih dapat tertawa, karena tidak semua orang akan dapat tertawa, apalagi tertawa dengan bebas. Berapa banyak orang yang ingin tertawa namun harus mengeluarkan uang, dan itu tidak sedikit. Bahkan ada juga yang ingin tertawa tapi tidak bisa tertawa, sehingga untuk tertawa saja harus dipancing-pancing dan itu belum tentu bisa untuk tertawa.
Tertawa memang bagian dari humor. Membaca kata ‘humor’ saja pasti terbayangkan dengan tawa. Demikian juga antara humor dengan permainan. Permainan yang kreatif menjadi menarik bila ada sisipan waktu untuk tertawa. Dengan tertawa, permainan akan hidup dan bergairah. Menurut A. Rod Martin (2007), memandang humor sebagai bentuk sebuah permainan, yang secara khusus berdasarkan komponen kognitif, emosional mencakup rasa gembira dan ekspresif dalam bentuk tawa, merupakan cara yang terbaik. Martin memandangnya dalam konteks sosial. Makanya, humor juga dipandang sebagai sebuah permainan. Humor merupakan sebuah cara yang dilakukan manusia dalam berinteraksi dengan suatu sikap bermain. Semua komponen humor tersebut memiliki dimensi sosial tersendiri, hal ini dikarenakan tertawa merupakan salah bentuk ekspresi yang dilakukan secara bersama-sama dengan orang lain.
Karena menyampaikan suatu keadaan kegembiraan dari yang satu kepada yang lain, maka tawa juga mengandung nilai sosial. Dalam aliran tertawa memiliki suatu sikap kebersamaan yang dilakukan dalam bentuk tertawa secara bersama atau berkelompok. Bayangkan saja, ketika kita di hari pekan, ketika kita menonton orang jual obat. Atau ketika kita menonton pementasan komedi di sebuah gedung teater. Atau ketika kita berkumpul dengan teman-teman kita. Entah kita main tebak-tebakan atau saling usil atau saling bermain lucu-lucuan. Kita akan tertawa bersama-sama ketika unsur humor dalam sebuah penyampaian itu hadir. Terkadang kita tertawa sambil memandang teman-teman yang di samping. Atau kita menjadi kagum dengan humor yang disampaikan itu, lalu dengan teman-teman kita mendiskusikannya sambil tertawa. Bahkan ada orang yang tiba-tiba bertemu, lalu menghubungi sahabat masa lalu, berkumpul di sebuah café atau warung kopi, pasti sambil ngopi akan tertawa dengan cerita-cerita lucu masa lalu. Jangankan cerita lucu masa lalu, kisah berkelahi pun akan diceritakan sambil tertawa.
Walaupun humor sabagai salah satu bentuk permainan yang menikmatinya demi humor itu sendiri, namun dengan humor pula suatu fungsi sosial penting yang akan menyumbangkan bagi evolusioner manusia. Kekuatan humor adalah melalui kata-kata yang menjadi ekspresi terhadap kedamaian jiwa manusia dengan menyuguhkan hiburan terhadap dirinya sendiri serta terhadap orang lain. Boleh saja humor dijadikan sebagai sebuah sentilan secara halus terhadap ketidakselarasan hidup yang dijalani manusia. Humor dan permainan seperti dua sisi mata uang, boleh saja dikala lagi bermain bersitegang, namun di ruang istirahat akan saling bercerita sambil tertawa.
Ada ungkapan; rideo ergo sum, aku tertawa maka aku ada. Sebagai makhluk terindah yang diciptakan Tuhan, manusia mengekspresikan hidupnya melalui permainan sambil tertawa. Manusia sangat gemar bermain, dalam bentuk apa pun, bahkan dapat lewat kreatifitasnya dapat menciptakan bentuk-bentuk permainan yang melindasi nilai-nilai kebudayaan dan peradaban. Humor merupakan salah satu bentuk permainan yang diciptakan manusia. Melalui humor juga manusia dapat melahirkan indahnya persahabatan serta persaudaraan, termasuk dalam mempererat hubungan dengan sesama manusia. Oleh manusia, humor juga menjadi santapan rohani bagi jiwa serta sebagai inspirasi antar sesama bagi yang ingin mendapatkan cinta dari Ilahi.
“Manusia itu suka bermain”, kata Huizinga. Bermain sangat erat dengan sikap sportifitas, autentisitas serta mengaktualisasi diri manusia secara benar serta sebuah keutuhan sebagai makhluk bernama manusia. Manusia senang bermain bahkan lewat permainan yang dimainkannya telah memberi kebahagian bagi zahir dan batin manusia. Bermain adalah dunia kemerdekaan manusia, bagian dari pendewasaan serta sebagai sebuah jati diri manusia yang utuh. Lewat bermainlah manusia telah menemukan hal-hal yang bersifat kenikmatan, bebas dari ketakutan, kesenangan, kebahagiaan, kelegaan termasuk sebagai sebuah aspek dari emansipatoris. Lewat bermain, manusia menciptakan berbagai aturan, menunjukkan eksistensinya serta menciptakan ekspresinya. Maka bermain adalah sebuah kemerdekaan yang didambakan manusia untuk mengeskpresikan diri sebagai sebuah kebebasan. Aku ingin bermain, sampai anggota tubuhku berhenti dapat kugerakkan.