Mudah Benci, Mudah Suka: Menjadi Netizen Bijak di Era Post-Truth

Oleh: Putri Amalia

Media sosial hari ini telah mengubah cara manusia melihat kebenaran. Opini publik dapat bergeser hanya dalam hitungan jam, tergantung siapa yang paling meyakinkan dalam membangun narasi. Seseorang yang pagi hari dihujat habis-habisan, sore harinya bisa berubah menjadi pihak yang dibela. Sebaliknya, mereka yang sebelumnya dipuji tiba-tiba menjadi sasaran kebencian setelah muncul potongan video atau cerita baru.

Bacaan Lainnya

Fenomena ini memperlihatkan satu kenyataan yang semakin nyata di era digital: masyarakat sering kali tidak lagi mencari kebenaran secara utuh, melainkan bereaksi terhadap narasi yang paling emosional dan paling mudah dipercaya.

Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan konflik antar tetangga yang bermula dari unggahan video pendek di TikTok. Salah satu pihak membagikan rekaman yang memperlihatkan perilaku tetangganya dari sudut pandang tertentu. Dalam waktu singkat, netizen ramai-ramai menghujat pihak yang dianggap bersalah, meski belum ada klarifikasi maupun verifikasi fakta secara menyeluruh.

Namun keadaan berubah ketika pihak yang sebelumnya dihujat tampil dalam sebuah podcast dan menjelaskan versinya dengan tenang. Arus opini publik pun berbalik. Netizen yang semula mencaci mulai bersimpati dan membela. Tidak lama kemudian, pihak pertama kembali muncul membawa bukti baru, lalu gelombang dukungan kembali berubah arah.

Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa media sosial sering kali bekerja layaknya pertandingan narasi. Yang paling menentukan bukan siapa yang paling benar, melainkan siapa yang tampil paling meyakinkan dan siapa yang berhasil menguasai perhatian publik lebih dulu.

Fenomena tersebut dikenal sebagai era post-truth, yaitu kondisi ketika emosi dan persepsi lebih berpengaruh dibanding fakta objektif. Di era ini, framing menjadi sangat menentukan. Judul, potongan video, ekspresi wajah, hingga cara seseorang berbicara mampu membentuk opini jutaan orang hanya dalam hitungan menit.

Algoritma media sosial juga memperkuat keadaan tersebut. Konten yang memancing kemarahan, kesedihan, atau keterkejutan cenderung mendapat lebih banyak interaksi. Akibatnya, pengguna media sosial tanpa sadar terbiasa bereaksi cepat sebelum berpikir panjang. Banyak orang akhirnya menjadi konsumen emosi, bukan konsumen informasi.

Ironisnya, sebagian besar netizen tidak merasa sedang dipengaruhi. Mereka merasa sedang membela keadilan, padahal dalam banyak kasus hanya menjadi bagian dari arus opini yang terus berubah mengikuti narasi terbaru.

Dalam perspektif Islam, fenomena ini sesungguhnya telah lama diingatkan melalui konsep tabayyun. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, umat Islam diperintahkan untuk memeriksa kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Nilai ini sangat relevan di tengah derasnya arus informasi digital saat ini.

Tabayyun bukan sekadar ajakan untuk berhati-hati, melainkan bentuk tanggung jawab moral agar seseorang tidak terlibat dalam penyebaran fitnah, prasangka, maupun penghakiman yang tidak adil. Islam menempatkan akal sehat dan kehati-hatian di atas dorongan emosi sesaat.

Namun, tabayyun juga tidak boleh dipahami secara keliru. Dalam beberapa kasus yang ramai diperbincangkan publik, ada pihak-pihak tertentu yang justru menggunakan ayat tentang tabayyun sebagai tameng untuk menghindari kritik atau pertanggungjawaban. Padahal, tabayyun adalah perintah kepada masyarakat agar tidak gegabah dalam menerima informasi, bukan alat untuk membungkam korban atau menghalangi proses pencarian kebenaran.

Karena itu, penting untuk membedakan antara ajaran yang benar dengan perilaku manusia yang menyalahgunakannya. Kesalahan individu tidak boleh dijadikan alasan untuk meragukan nilai luhur agama itu sendiri.

Menjadi netizen bijak bukan berarti apatis terhadap persoalan sosial. Justru sebaliknya, kepedulian tetap harus hadir, tetapi dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Mengawal keadilan perlu dilakukan dengan kepala dingin, berdasarkan informasi yang cukup, dan tanpa menjadikan penderitaan orang lain sebagai hiburan publik.

Di tengah era digital yang penuh framing dan manipulasi emosi, kemampuan berpikir jernih menjadi benteng yang sangat penting. Sebelum membagikan informasi atau menuliskan komentar, setiap orang perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah fakta yang diterima sudah lengkap? Apakah reaksi yang muncul lahir dari pemahaman, atau hanya karena terbawa arus?

Sebab pada akhirnya, menjadi netizen yang bijak memang jauh lebih sulit dibanding sekadar ikut marah bersama keramaian.

Penulis adalah Mahasiswi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *