Menolak Lupa: Ketika Deureuham Aceh Tinggal Menjadi Pajangan Sejarah

Oleh: Nur Fatmi
Mahasiswi Pendidikan Sejarah Universitas Syiah Kuala

Aceh adalah tanah yang menyimpan ribuan jejak sejarah, mulai dari masa kejayaan kerajaan, jalinan diplomasi internasional, hingga runtuhnya kedaulatan akibat intervensi asing. Di antara berbagai saksi bisu masa lalu itu, terdapat sekeping logam mulia yang pernah menggetarkan pasar dunia, yakni deureuham atau mata uang emas Kesultanan Aceh. Mata uang kuno ini bukan sekadar alat tukar yang lapuk dimakan usia, melainkan bukti nyata ketangguhan sistem ekonomi maritim Aceh yang mampu menembus jaringan perdagangan internasional pada masanya.

Bacaan Lainnya

Jika menengok kembali masa kejayaan Kesultanan Aceh, wilayah ini memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di gerbang barat Nusantara sekaligus dekat dengan jalur perdagangan internasional di Selat Malaka. Posisi tersebut menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat perdagangan penting di kawasan Asia. Untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan politiknya, Kesultanan Aceh menerapkan sistem moneter yang teratur dan terukur melalui peredaran berbagai jenis mata uang.

Pada masa itu, kerajaan mengedarkan beberapa jenis mata uang, seperti dirham emas, kupang perak, cash dari timah, dan duit dari bahan tembaga. Koin-koin tersebut dirancang dengan perhitungan yang matang dan memuat nama Sultan atau Sultanah yang sedang berkuasa, lengkap dengan tahun Hijriah yang ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi. Keberadaan mata uang tersebut menunjukkan bahwa Aceh telah memiliki sistem ekonomi yang maju dan terorganisasi jauh sebelum hadirnya sistem keuangan modern.

Namun, di balik kejayaan itu tersimpan kisah pilu tentang runtuhnya stabilitas ekonomi akibat tekanan politik dan intervensi bangsa-bangsa kolonial. Kekuatan deureuham tidak runtuh secara tiba-tiba, melainkan perlahan melemah seiring masuknya kepentingan asing yang semakin kuat mencengkeram wilayah Aceh. Ketika kesultanan berada pada puncak kejayaannya, perdagangan berkembang pesat dan nilai mata uang relatif stabil. Akan tetapi, situasi berubah ketika kekuatan-kekuatan Eropa mulai menanamkan pengaruh politik dan ekonominya di kawasan ini.

Dampak dari dinamika tersebut dapat dilihat dari fluktuasi harga komoditas unggulan Aceh, yaitu lada. Dalam berbagai catatan sejarah perdagangan, harga lada yang diperjualbelikan menggunakan mata uang riyal per satuan bahar mengalami perubahan yang cukup signifikan seiring meningkatnya campur tangan bangsa asing di Aceh. Kondisi ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi suatu wilayah tidak pernah terlepas dari situasi politik yang melingkupinya.

Persoalan ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi dunia pendidikan sejarah. Generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ingatan kolektif tentang kejayaan sistem ekonomi yang pernah dimiliki Aceh. Keberadaan deureuham dan berbagai sistem konversi mata uang internasional pada masa itu menunjukkan bahwa leluhur Aceh memiliki kemampuan diplomasi, perdagangan, dan pengelolaan ekonomi yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Sayangnya, perhatian terhadap warisan sejarah ekonomi tersebut masih tergolong rendah. Di berbagai museum dan situs sejarah, peninggalan numismatik Aceh sering kali hanya dipandang sebagai benda kuno yang menarik untuk dipajang. Tidak sedikit pula koleksi bersejarah yang berpindah tangan menjadi barang koleksi pribadi tanpa diiringi upaya edukasi yang memadai kepada masyarakat.

Ironisnya, di tengah semangat mengejar kemajuan ekonomi modern, kita justru kerap melupakan akar sejarah ekonomi yang pernah mengantarkan Aceh menjadi salah satu kekuatan penting dalam perdagangan dunia. Padahal, warisan tersebut menyimpan banyak pelajaran berharga tentang pentingnya membangun sistem ekonomi yang kuat, tata kelola perdagangan yang baik, serta diplomasi yang cerdas dalam menghadapi perubahan zaman.

Sejarah mata uang Kesultanan Aceh semestinya tidak hanya menjadi materi hafalan di ruang kelas atau sekadar koleksi museum yang berdebu. Warisan ini merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Aceh yang perlu terus dijaga, diteliti, dan diperkenalkan kepada generasi muda. Di tengah tantangan globalisasi dan rendahnya literasi sejarah, upaya pelestarian peninggalan seperti deureuham menjadi semakin penting agar masyarakat tidak kehilangan jejak masa lalunya.

Sudah saatnya pemerintah daerah, akademisi, komunitas sejarah, dan generasi muda bersinergi menjaga serta menghidupkan kembali kesadaran terhadap warisan berharga ini. Jangan sampai bukti kejayaan yang telah bertahan melewati berbagai zaman justru hilang karena kelalaian kita sendiri.

Mempelajari sejarah deureuham bukan sekadar mengagumi kepingan emas tua. Lebih dari itu, ia merupakan upaya menjaga ingatan kolektif tentang kedaulatan, ketangguhan ekonomi, dan kecerdasan para Sultan serta Sultanah Aceh dalam membangun sistem perdagangan yang dihormati dunia. Jika generasi hari ini gagal merawat ingatan tersebut, maka yang hilang bukan hanya sekeping mata uang kuno, melainkan jejak kebesaran peradaban Aceh yang pernah berdiri tegak dan diperhitungkan oleh dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *