Daerah Bertumbuh, Generasi Bertanya: Di Mana Rumah Pendidikan Kami?

Oleh: Muhammad Aulia
Mahasiswa Pascasarjana UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Sumatera Barat

Sebagai anak muda yang lahir dan tumbuh di Nagan Raya, ada kebanggaan tersendiri melihat daerah ini berkembang dari waktu ke waktu. Kabupaten yang dimekarkan pada 2002 itu perlahan tumbuh menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan di Aceh. Perekonomian bergerak, infrastruktur terus berbenah, sektor perkebunan berkembang, investasi mulai semakin dilirik, dan berbagai potensi daerah terus didorong untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Bagi putra-putri daerah, kemajuan tersebut tentu bukan sekadar angka dalam laporan pembangunan. Ia adalah kebanggaan sekaligus bukti bahwa Nagan Raya memiliki potensi besar untuk terus tumbuh menjadi daerah yang maju.

Namun, di tengah berbagai capaian itu, ada satu hal yang semestinya tidak luput dari perhatian: pendidikan.

Nagan Raya sebenarnya tidak kekurangan sumber daya manusia. Putra-putri Nagan Raya tersebar di berbagai daerah dan telah mengisi beragam bidang, termasuk pendidikan. Tidak sedikit yang menjadi guru, akademisi, profesional, maupun penggerak pembangunan di luar daerah, khususnya di wilayah ibu kota provinsi.

Lalu muncul pertanyaan sederhana: mengapa potensi sebesar itu belum sepenuhnya memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang di tanah kelahirannya sendiri?

Kegelisahan ini bukan karena Nagan Raya tidak memiliki generasi potensial. Justru sebaliknya. Daerah ini memiliki banyak anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki semangat untuk berkembang. Persoalannya adalah bagaimana pemerintah, tokoh masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta seluruh elemen masyarakat dapat membangun ekosistem pendidikan yang mampu menjaga, mengembangkan, dan mengoptimalkan potensi tersebut.

Hari ini, tidak sedikit masyarakat Nagan Raya yang harus mengeluarkan biaya besar demi pendidikan anak-anak mereka. Sebagian memilih mengirim anaknya ke luar daerah karena menganggap peluang mendapatkan pendidikan yang lebih baik tersedia di tempat lain.

Pertanyaannya kemudian: mengapa harus keluar Nagan Raya?

Menuntut ilmu ke luar daerah tentu bukan sesuatu yang keliru. Bahkan, pengalaman belajar di berbagai tempat dapat memperluas wawasan dan membentuk karakter seseorang. Namun, akan jauh lebih baik jika suatu saat Nagan Raya mampu menghadirkan lembaga dan ekosistem pendidikan yang maju, berkualitas, dan kompetitif sehingga generasinya memiliki pilihan untuk belajar, bertumbuh, berprestasi, dan pada akhirnya kembali membangun daerah.

Sebab, pembangunan tidak boleh hanya berhenti pada apa yang mengisi perut, tetapi juga harus memikirkan apa yang mengisi otak.

Kita membutuhkan jalan yang baik, perkebunan yang produktif, investasi yang berkembang, pusat-pusat ekonomi yang tumbuh, serta berbagai pembangunan fisik lainnya. Namun, semua itu pada akhirnya membutuhkan manusia berkualitas untuk mengelola dan mengembangkannya.

Infrastruktur yang megah tidak akan memberikan manfaat secara maksimal apabila tidak ditopang oleh generasi yang berpendidikan, berkarakter, dan memiliki kapasitas untuk mengelolanya. Karena itu, pembangunan manusia seharusnya tidak ditempatkan sebagai agenda yang dapat dikerjakan setelah pembangunan fisik selesai. Keduanya harus berjalan beriringan.

Lantas, sampai kapan persoalan ini akan kita biarkan?

Apakah kita akan terus sibuk mengejar angka pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, sementara pembangunan manusia ditempatkan sebagai urusan berikutnya?

Bagi kami, persoalan pendidikan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan, dunia usaha memiliki sumber daya, masyarakat memiliki kepedulian, sementara generasi muda memiliki energi dan gagasan. Jika semuanya dapat dipertemukan dalam satu visi, pendidikan Nagan Raya bukan sesuatu yang mustahil untuk dibangun menjadi lebih kuat.

Di tengah kegelisahan tersebut, pembangunan Sekolah Rakyat di Nagan Raya tentu patut diapresiasi sebagai sebuah langkah positif. Namun, kita perlu memahami bahwa sekolah bukan sekadar bangunan fisik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sekolah tersebut menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

Membangun sekolah adalah awal. Membangun manusianya adalah tujuan.

Sebagai anak muda yang bergelut di bidang pendidikan, kami merasa perlu mengambil bagian dalam menyuarakan kegelisahan ini. Bukan karena merasa paling tahu, tetapi karena kami percaya bahwa perubahan selalu membutuhkan keberanian untuk memulai pembicaraan.

Kekayaan yang paling abadi bukan semata-mata tentang seberapa besar nominal yang mampu kita hasilkan hari ini. Kekayaan yang sesungguhnya adalah seberapa besar apa yang kita miliki mampu diinvestasikan untuk masa depan, terutama untuk membangun manusia.

Sebagaimana sebuah kalimat yang pernah kami dengar dari Wakil Direktur Pascasarjana kampus kami di Sumatera Barat: “Investasi terbaik adalah investasi leher ke atas.”

Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. Investasi pendidikan mungkin tidak selalu memberikan hasil secara instan. Namun, dari pendidikanlah lahir manusia-manusia yang kelak mampu menciptakan perubahan, menggerakkan perekonomian, membangun daerah, dan menjaga masa depan.

Karena itu, barangkali sudah waktunya kita kembali bertanya: jika Nagan Raya ingin menjadi daerah yang besar, apakah kita sudah cukup serius membesarkan manusianya?

Pertanyaan ini semoga tidak berhenti sebagai sebuah tulisan. Ia harus menjadi bahan renungan, ruang diskusi, sekaligus ikhtiar bersama untuk menghadirkan masa depan pendidikan yang lebih baik di Nagan Raya.

Sebab, membangun daerah bukan hanya tentang membangun tempat bagi manusia untuk hidup. Lebih dari itu, membangun daerah adalah tentang menciptakan manusia yang mampu membuat daerah tersebut terus hidup, tumbuh, dan berkembang.

Pos terkait