Mahasiswa Peduli Dayah dan PMII Gelorakan Semangat Hijrah di Tengah Krisis Ekonomi dan Keresahan Sosial

Banda Aceh – Mahasiswa Peduli Dayah berkolaborasi dengan PMII Rayon Laksamana Malahayati Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar webinar bertema “Hijrah dari Keluh ke Syukur: Menyikapi Krisis Ekonomi dengan Iman dalam 1 Muharram 1448 H”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa, santri, pelajar, dan pemuda dalam memaknai Tahun Baru Islam di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi, Jumat, (19/06/2026).

Webinar yang diikuti peserta dari berbagai daerah itu membahas bagaimana umat Islam dapat menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, hingga meningkatnya keresahan sosial dengan memperkuat keimanan dan kesadaran spiritual.

Bacaan Lainnya

Pemateri pertama, Shandy, S.H., yang merupakan demisioner Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan saat ini menempuh pendidikan Magister Ilmu Hukum di Universitas Sriwijaya, mengajak peserta melihat krisis ekonomi tidak hanya sebagai persoalan material, tetapi juga sebagai ujian mental dan spiritual.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang sulit kerap melahirkan kecemasan, pesimisme, bahkan keputusasaan. Padahal, dalam ajaran Islam setiap kesulitan merupakan kesempatan untuk memperkuat kesabaran, ikhtiar, dan rasa syukur.

“Krisis ekonomi memang nyata, tetapi yang lebih berbahaya adalah ketika manusia kehilangan rasa syukur dan harapan. Islam mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan untuk menyerah, melainkan momentum untuk memperkuat ikhtiar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujarnya.

Shandy menegaskan bahwa makna hijrah pada momentum Tahun Baru Islam tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan waktu, tetapi juga perubahan cara berpikir dan cara bersikap menuju kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, pemateri kedua, Fata Muhibudin selaku Koordinator NAKAMA, menyoroti fenomena keresahan sosial yang semakin dirasakan masyarakat akibat ketidakstabilan ekonomi, konflik sosial, polarisasi di ruang publik, hingga derasnya arus informasi di era digital.

Menurutnya, Islam hadir sebagai pedoman yang mengajarkan ketenangan, kebijaksanaan, dan keseimbangan dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

“Di tengah suasana yang penuh kegaduhan, umat Islam harus tetap menjaga akal sehat dan kejernihan hati. Islam mengajarkan tabayyun, kesabaran, dan optimisme. Huru-hara zaman tidak boleh membuat kita kehilangan arah maupun kehilangan nilai-nilai kemanusiaan,” jelasnya.

Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut dipandu oleh Muhammad Afif Irvandi El Tahiry, S.H., Founder Mahasiswa Peduli Dayah sekaligus Ketua Laskar Santri Perjuangan Aceh.

Dalam kesempatan itu, Afif menegaskan bahwa peringatan Tahun Baru Islam tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan semata, melainkan harus menjadi momentum untuk memperkuat spiritualitas, kepedulian sosial, dan optimisme di tengah berbagai persoalan bangsa.

“Kita sedang menghadapi masa yang tidak mudah. Banyak masyarakat bergulat dengan persoalan ekonomi, keresahan sosial, dan ketidakpastian masa depan. Karena itu, semangat hijrah harus dimaknai sebagai keberanian untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi Mahasiswa Peduli Dayah dan PMII Rayon Laksamana Malahayati merupakan bentuk komitmen bersama dalam menghadirkan ruang edukasi dan diskusi yang mencerahkan bagi generasi muda.

Menurutnya, mahasiswa dan santri tidak boleh hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, tetapi harus hadir sebagai bagian dari solusi melalui gagasan, gerakan, dan pengabdian.

Melalui kegiatan tersebut, panitia berharap semangat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dapat menjadi energi perubahan bagi generasi muda untuk menghadapi berbagai tantangan zaman dengan keimanan yang kuat, pemikiran yang kritis, serta sikap yang penuh rasa syukur.

Sebab hakikat hijrah bukan sekadar berpindah dari satu tahun ke tahun berikutnya, melainkan keberanian untuk berpindah dari keresahan menuju keteguhan, dari kegelisahan menuju ketenangan, serta dari pesimisme menuju optimisme dalam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *