Estafet Amnesia di Kursi Kekuasaan

Oleh: Maimun Panga

Dunia politik kita itu mirip panggung sulap, penuh dengan trik yang bikin penonton melongo. Salah satu trik paling magis yang sering kita saksikan adalah transformasi ajaib seorang aktivis menjadi pejabat, lalu menjadi mantan pejabat.

Bacaan Lainnya

Siklusnya begitu rapi, sampai-sampai kita yang menonton dari pinggir jalan sering dibuat pusing karena bingung.

Dulu, saat masih berstatus aktivis tulen, urat leher mereka selalu tegang demi membela hak kaum lemah. Suara mereka menggelegar lewat pelantang suara, menuntut kebebasan, mendewakan demokrasi, dan mengutuk korupsi sampai ke akar-akarnya.

Pokoknya, kalau mereka lewat, malaikat pun mungkin mengangguk setuju karena idealisme mereka yang setinggi langit. Namun, keajaiban pertama terjadi begitu mereka resmi memakai lencana jabatan dan duduk di kursi empuk beralas busa premium.

Seketika, ruangan ber-AC di kantor pemerintahan tampaknya memiliki efek samping medis yang serius: amnesia dadakan. Begitu masuk ke dalam sistem, suara lantang yang dulu memecah keheningan jalanan mendadak berubah menjadi bisikan, atau yang paling parah, diam seribu bahasa.

Alih-alih memutus mata rantai “kejahatan” birokrasi lama, mereka justru tampak sangat mahir menerima estafet dari pejabat sebelumnya.

Janji-janji manis masa lalu menguap, digantikan oleh bahasa seragam birokrasi: “Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang” atau “Semua sudah sesuai prosedur.”

Publik pun hanya bisa mengurut dada. Kita seperti menonton plot twist film horor, ketika pahlawan yang kita soraki di awal film ternyata berubah menjadi monster di pertengahan cerita.

Namun, pertunjukan belum selesai. Keajaiban kedua muncul saat masa jabatan mereka habis atau ketika mereka terdepak dari lingkaran kekuasaan. Begitu kembali menjadi warga sipil dan menyandang predikat “tokoh senior”, penyakit amnesia mereka mendadak sembuh total. Urat leher yang sempat kendur selama menjabat tiba-tiba kencang kembali.

Mereka kembali rajin mengisi podcast, menulis kolom di media, dan berapi-api berbicara soal perbaikan bangsa.

Mereka kembali menjadi kritikus paling tajam, seolah-olah kursi empuk yang mereka duduki kemarin sore tidak pernah ada hubungannya dengan kebijakan yang mereka kritik hari ini.

Melihat siklus ajaib ini, kita yang awam jadi pusing sendiri. Jangan-jangan, kalau ada demonstrasi besar di depan gedung pemerintahan hari ini, pejabat yang ada di dalam gedung sedang mengintip dari balik tirai sambil bergumam, “Ah, kalian mirip saya sepuluh tahun yang lalu.”

Pada akhirnya, kita hanya bisa berharap agar kursi jabatan di negeri ini tidak terus-menerus bertindak sebagai mesin penghapus memori.

Idealisme seharusnya menjadi kompas yang memandu saat memegang kemudi kekuasaan, bukan sekadar aksesori yang dipakai saat masih berjalan kaki, lalu disimpan rapat di dalam laci begitu memiliki mobil dinas.

Sebab, jika siklus “Aktivis–Pejabat Amnesia–Aktivis Tua” ini terus berulang, politik kita tidak akan pernah maju ke depan. Ia hanya akan berputar-putar di tempat, seperti komidi putar yang menghibur, tetapi sebenarnya membuat penontonnya mual.

Peulis adalah Pengamat Kebijakan Publik yang berdomisili di Aceh Jaya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *