Ernawaty
Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Di era digital saat ini, sebuah informasi sering kali dianggap penting bukan karena manfaatnya, melainkan karena kemampuannya menjadi viral. Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah media massa secara drastis. Jika dahulu media massa hadir sebagai sumber informasi yang mengutamakan akurasi dan edukasi publik, kini media juga harus berhadapan dengan tuntutan kecepatan, popularitas, dan persaingan ketat dalam menarik perhatian audiens.
Kehadiran media sosial semakin memperumit keadaan karena informasi dapat diproduksi dan disebarkan oleh siapa saja tanpa melalui proses penyaringan yang jelas. Dalam situasi seperti ini, media massa modern berada pada sebuah dilema besar: memilih menjadi sarana edukasi masyarakat atau terjebak dalam arus sensasi demi mempertahankan perhatian publik.
Pada dasarnya, media massa memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Media berperan sebagai penyampai informasi, sarana pendidikan, kontrol sosial, hingga pembentuk opini publik. Melalui media, masyarakat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka, mulai dari isu politik, ekonomi, budaya, hingga persoalan kemanusiaan. Karena itu, media massa sering disebut sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi.
Namun, fungsi ideal tersebut perlahan mengalami perubahan. Persaingan antar media yang semakin ketat membuat banyak pihak berlomba-lomba menciptakan konten yang mampu menarik perhatian publik dalam waktu singkat. Akibatnya, muncul budaya media yang lebih mengutamakan sensasi dibandingkan substansi informasi. Judul berita dibuat provokatif, konflik dibesar-besarkan, dan isu-isu kontroversial lebih sering diangkat karena dianggap mampu mendatangkan pembaca, penonton, maupun klik dalam jumlah besar.
Fenomena ini semakin nyata ketika media sosial menjadi ruang utama penyebaran informasi. Hari ini, masyarakat hidup dalam budaya “viral”. Sesuatu dianggap penting bukan karena manfaatnya, tetapi karena ramai dibicarakan. Banyak media akhirnya mengikuti pola tersebut dengan memproduksi berita yang lebih berorientasi pada popularitas dibandingkan nilai edukatif. Tidak sedikit media yang memanfaatkan rasa penasaran publik melalui judul-judul clickbait yang sering kali menyesatkan. Isi berita terkadang tidak sejalan dengan judul yang ditampilkan, tetapi tetap berhasil menarik perhatian karena membangkitkan emosi pembaca.
Pergeseran ini menunjukkan bagaimana media yang seharusnya menjadi sarana pencerahan publik kerap terjebak dalam logika pasar digital. Semakin tinggi jumlah penonton dan interaksi, semakin besar keuntungan yang diperoleh. Dalam kondisi seperti ini, etika media tidak jarang dikesampingkan demi kepentingan ekonomi dan popularitas.
Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah maraknya konten yang mengeksploitasi konflik pribadi untuk konsumsi publik. Perselisihan rumah tangga artis, pertengkaran antar kreator konten, hingga isu sensitif mengenai kehidupan pribadi seseorang sering kali menjadi bahan utama pemberitaan maupun perbincangan di media sosial. Konten semacam ini dengan cepat menjadi viral karena dianggap menghibur dan memancing rasa ingin tahu masyarakat. Padahal, dari sisi etika komunikasi massa, eksploitasi masalah pribadi demi keuntungan publikasi merupakan praktik yang patut dipertanyakan.
Fenomena lain yang tidak kalah memprihatinkan adalah budaya menghujat di media sosial. Banyak pengguna dengan mudah memberikan komentar kasar, menyebarkan fitnah, bahkan melakukan perundungan digital terhadap orang lain. Ironisnya, perilaku seperti ini sering kali memperoleh perhatian besar dan dianggap sebagai hiburan. Dalam beberapa kasus, media massa turut memperbesar persoalan dengan terus memberitakan konflik yang sebenarnya tidak memiliki nilai edukasi yang berarti bagi publik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah memengaruhi cara kerja media massa modern. Media tidak lagi hanya berperan sebagai pengelola informasi, tetapi juga menjadi bagian dari arus viralitas digital. Ketika sebuah isu ramai diperbincangkan, media cenderung ikut mengangkatnya demi mempertahankan jumlah pembaca. Akibatnya, kualitas informasi sering kali menjadi nomor dua dibandingkan potensi perhatian yang bisa diperoleh.
Di sisi lain, fenomena penyebaran hoaks juga menjadi bukti nyata rendahnya etika dalam penggunaan media saat ini. Banyak orang membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu. Berita palsu yang memuat unsur provokasi, kebencian, bahkan fitnah dapat menyebar sangat cepat dan memengaruhi opini masyarakat. Dalam situasi tertentu, hoaks bahkan mampu memicu konflik sosial dan perpecahan.
Sayangnya, rendahnya literasi digital membuat sebagian masyarakat kesulitan membedakan informasi yang benar dan yang menyesatkan. Banyak orang lebih mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan emosi atau keyakinan pribadinya tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten sensasional karena lebih efektif menarik perhatian pengguna.
Di tengah situasi tersebut, media massa seharusnya hadir sebagai penyeimbang dengan menghadirkan informasi yang edukatif, akurat, dan berkualitas. Media perlu menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional dengan mengutamakan fakta, kepentingan publik, dan tanggung jawab sosial. Sebab media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara berpikir dan perilaku masyarakat. Apa yang terus-menerus ditampilkan media akan memengaruhi cara masyarakat memandang suatu persoalan.
Ketika media lebih banyak menyajikan sensasi dibandingkan edukasi, masyarakat pun berisiko terbiasa menikmati konflik, ujaran kebencian, dan hiburan yang miskin nilai. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas budaya komunikasi publik dan melemahkan fungsi media sebagai sarana pembelajaran sosial.
Karena itu, penting bagi media massa untuk kembali menempatkan etika sebagai landasan utama dalam praktik komunikasi. Media tidak boleh hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat. Informasi yang disampaikan seharusnya mampu memberikan manfaat, memperluas wawasan, dan membantu masyarakat memahami realitas sosial secara lebih bijak.
Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna media juga memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Pengguna media sosial perlu lebih bijak dalam berkomentar, membagikan informasi, dan mengonsumsi konten digital. Kebebasan berekspresi harus diiringi dengan kesadaran etika agar media sosial tidak berubah menjadi ruang yang dipenuhi kebencian dan provokasi.
Pendidikan literasi digital menjadi langkah penting untuk menghadapi persoalan ini. Masyarakat perlu dibekali kemampuan mengenali informasi palsu, memahami etika komunikasi digital, serta menggunakan media secara bertanggung jawab. Generasi muda, khususnya, perlu memahami bahwa popularitas di media sosial bukanlah segalanya apabila diperoleh dengan cara yang mengabaikan etika.
Pada akhirnya, dilema antara sensasi dan edukasi merupakan tantangan besar yang dihadapi media massa modern. Media memang membutuhkan perhatian publik untuk bertahan, tetapi perhatian tersebut tidak seharusnya diperoleh dengan mengorbankan etika dan kualitas informasi. Media harus tetap menjadi ruang yang mencerdaskan, bukan sekadar panggung sensasi yang memperkeruh kehidupan sosial.
Jika media dan masyarakat mampu menempatkan etika sebagai prioritas utama, maka media massa dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai sarana edukasi dan pembangunan sosial. Namun, jika sensasi terus dijadikan tujuan utama, media hanya akan melahirkan masyarakat yang mudah terprovokasi, haus konflik, dan perlahan kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai moral dalam komunikasi publik.





