BEM FH Unaya dan Aceh Documentary Hidupkan Edukasi Sosial Masyarakat Lewat Aceh Film Festival

Aceh Besar – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Abulyatama (BEM FH Unaya) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun kesadaran sosial dan budaya masyarakat melalui kegiatan Aceh Film Festival yang digelar di Gampong Ateuk Angguk dan Gampong Cot Masam, Kabupaten Aceh Besar, Senin, (25/05/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi, pemberdayaan, sekaligus penguatan nilai-nilai sosial masyarakat melalui pemutaran film dokumenter karya anak daerah Aceh Besar yang dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama warga.

Dalam pelaksanaannya, BEM FH Unaya berkolaborasi bersama komunitas Aceh Documentary sebagai bentuk sinergi antara mahasiswa, komunitas kreatif, dan masyarakat dalam menjaga identitas budaya Aceh melalui media film dokumenter.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Kehadiran warga dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa ruang edukasi berbasis budaya masih sangat dibutuhkan dan mendapat tempat di tengah masyarakat.

Suasana hangat dan penuh kebersamaan turut mewarnai jalannya kegiatan. Diskusi yang berlangsung aktif menjadi bukti bahwa film bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga media penyadaran sosial yang mampu membuka cara pandang masyarakat terhadap realitas di sekitarnya.

Salah satu film yang paling menarik perhatian masyarakat ialah dokumenter tentang pohon rumbia. Tumbuhan yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh tersebut kini mulai terancam keberadaannya akibat alih fungsi lahan.
Rumbia dinilai bukan sekadar pohon biasa, tetapi simbol kehidupan masyarakat Aceh, mulai dari bahan pangan, atap rumah tradisional, hingga bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir dan pedalaman.

Namun, saat ini lahan-lahan rumbia mulai berubah menjadi kawasan perumahan dan pembangunan lainnya tanpa mempertimbangkan dampak ekologis serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Apabila kondisi tersebut terus terjadi, maka bukan hanya pohon rumbia yang hilang, tetapi juga sejarah, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Aceh yang perlahan ikut terkikis.

Melalui Aceh Film Festival, BEM FH Unaya berharap masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan, budaya, dan identitas daerah sendiri. Sebab menjaga alam bukan hanya tentang mempertahankan pohon, tetapi juga menjaga warisan kehidupan bagi generasi mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *