ACEH JAYA — Upaya membangun generasi muda yang berakhlak dan memahami nilai-nilai syariat Islam terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya melalui Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH). Selasa (1/9/2026)
Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penguatan dan Pembinaan Karakter Pelajar Sesuai Nilai-Nilai Syariat Islam yang melibatkan unsur pendidikan di Kabupaten Aceh Jaya.
Kegiatan yang berlangsung selama satu hari tersebut diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari guru dan siswa tingkat SMP/sederajat, SMA/sederajat, serta perwakilan guru dari sejumlah pondok pesantren di Aceh Jaya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk mengenalkan aturan dan ketentuan syariat Islam, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi peserta untuk memahami bagaimana nilai-nilai agama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak melihat bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.
Keteladanan, komunikasi, pembinaan dan kepedulian dari lingkungan sekolah, keluarga serta masyarakat menjadi bagian penting dalam membentuk kepribadian generasi muda.
Bekali Peserta dengan Pemahaman Qanun dan Hukum Syariat
Untuk memperluas wawasan peserta, panitia menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang dan bidang yang berbeda.
Kepala Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Jaya, Lukman Hakim, S.H., menyampaikan materi bertajuk “Tegakkan Qanun, Wujudkan Kepatuhan: Peran Wilayatul Hisbah dalam Penegakan Syariat Islam.”
Lukman menjelaskan, penegakan syariat Islam tidak hanya berkaitan dengan aturan dan kewajiban, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar mampu memahami dan menjalankan nilai-nilai agama secara sukarela dan bertanggung jawab.
Menurutnya, lingkungan pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi penerus daerah.
“Sosialisasi ini kami lakukan untuk menyampaikan informasi sekaligus memberikan pemahaman kepada warga sekolah dan pondok pesantren, khususnya guru dan siswa, tentang pentingnya penguatan dan pembinaan karakter sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam,” ucapnya
“Kami berharap pemahaman yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat,” ujar Lukman.
Selanjutnya, Sekretaris Satpol PP dan WH Aceh Jaya, Baihaqi, S.Pd., M.M., memberikan materi “Penguatan Korelasi dan Kolaborasi dalam Penegakan, Pengawasan, dan Pembinaan Pelaksanaan Qanun Syariat Islam di Lingkungan Pendidikan.”
Baihaqi menekankan pentingnya kolaborasi antara Satpol PP dan WH dengan pihak sekolah, guru, pelajar, pondok pesantren, orang tua dan masyarakat.
Ia menilai pembinaan generasi muda akan lebih efektif apabila dilakukan secara bersama-sama dengan pendekatan edukasi, pencegahan, keteladanan dan pembinaan.
Dengan pola tersebut, lingkungan pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang aman dan kondusif untuk membentuk karakter serta akhlak peserta didik.
Sementara itu, Ketua Mahkamah Syar’iyah Calang memberikan materi mengenai “Qanun, Pelanggaran dan Konsekuensi Hukum: Memahami Penegakan Syariat Islam melalui Perspektif Mahkamah Syar’iyah.”
Materi ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai qanun, berbagai bentuk pelanggaran serta konsekuensi hukum yang dapat ditimbulkan.
Peserta juga mendapatkan gambaran mengenai proses penegakan syariat Islam dari perspektif Mahkamah Syar’iyah. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi guru maupun pelajar agar lebih memahami aturan dan mampu mengambil sikap secara bijak.
Penguatan Karakter di Tengah Tantangan Era Digital
Perkembangan teknologi dan media sosial saat ini memberikan banyak peluang bagi generasi muda untuk memperoleh informasi, belajar dan mengembangkan kreativitas.
Namun, derasnya arus informasi juga membutuhkan pendampingan agar pelajar mampu memilah dan menggunakan teknologi secara bijak serta tetap berpegang pada nilai agama dan norma yang berlaku.
Karena itu, pendidikan karakter dinilai sama pentingnya dengan pendidikan akademik. Pelajar perlu memiliki akhlak, etika, kedisiplinan, rasa tanggung jawab dan kemampuan membedakan perilaku yang baik maupun yang dapat membawa dampak negatif.
Dalam proses tersebut, guru memiliki posisi penting sebagai pendidik sekaligus teladan bagi siswa. Komunikasi yang terbuka dan perhatian terhadap perkembangan peserta didik juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter positif.
Hal serupa berlaku bagi pondok pesantren yang memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman keagamaan sekaligus membentuk generasi yang mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Bangun Sinergi dengan Dunia Pendidikan
Satpol PP dan WH Aceh Jaya berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat komunikasi dan sinergi dengan seluruh unsur pendidikan dalam upaya pembinaan generasi muda.
Penerapan syariat Islam diharapkan tidak berhenti pada pemahaman mengenai aturan, tetapi mampu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, mulai dari cara berbicara, bersikap, bergaul hingga mengambil keputusan.
Sebagai bentuk pelayanan dan apresiasi kepada peserta, panitia turut menyediakan uang saku, makan siang, sertifikat dan souvenir.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun karakter generasi muda merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, sekolah, guru, orang tua, pondok pesantren, pelajar dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi berkualitas.
Satpol PP dan WH Aceh Jaya ingin memastikan bahwa syariat Islam tidak hanya dikenal sebagai seperangkat aturan, tetapi juga dipahami sebagai nilai yang membimbing setiap individu untuk berperilaku baik.
Dengan pemahaman agama yang tepat, keteladanan dan kolaborasi yang kuat, diharapkan lahir generasi Aceh Jaya yang cerdas, santun, berakhlak, disiplin, bertanggung jawab serta mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat Islam. (*)

