“Cuma Bercanda”: Ketika Bullying di Sekolah Dianggap Tidak Sengaja

Oleh: Vina Kurnia Azzahra
Mahasiswa Program Studi Profesi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK)

Lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap peserta didik untuk belajar, berkembang, dan membangun hubungan sosial. Namun, pada kenyataannya, perilaku yang merugikan masih dapat ditemukan di lingkungan pendidikan, salah satunya adalah bullying atau perundungan.

Bacaan Lainnya

Hal yang menarik, bullying tidak selalu dilakukan dengan niat yang secara terang-terangan ingin menyakiti orang lain. Tidak jarang pelaku mengatakan bahwa apa yang dilakukannya hanya bercanda, tidak bermaksud menyakiti, atau bahkan tidak menyadari bahwa perilakunya telah membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Dari situ muncul pertanyaan: apakah bullying masih dapat dianggap sebagai sesuatu yang “tidak sengaja” ketika perilaku tersebut terus berulang dan dilakukan secara sistematis?

Menurut saya, kata “bercanda” dan “tidak sengaja” tidak seharusnya digunakan untuk mengabaikan dampak suatu perilaku. Seseorang mungkin memang tidak memiliki niat untuk menyakiti orang lain, tetapi bukan berarti dampak dari perilakunya dapat diabaikan. Dalam hubungan sosial, niat dan dampak merupakan dua hal yang berbeda.

Seseorang dapat mengatakan bahwa ia hanya bercanda, sementara orang yang menjadi sasaran candaan justru merasa dipermalukan, dikucilkan, atau tidak aman.

Bullying juga tidak selalu berbentuk tindakan yang secara langsung terlihat sebagai kekerasan. Memberikan julukan yang tidak disukai, terus-menerus menjadikan seseorang sebagai bahan lelucon, mengucilkan seseorang dari kelompok, atau mempermalukannya di depan teman-teman dapat menjadi bagian dari pola perilaku yang merugikan.

Ketika tindakan tersebut terjadi berulang kali dan melibatkan relasi kelompok, dampaknya menjadi semakin penting untuk diperhatikan.

Persoalan yang lebih besar muncul ketika lingkungan pendidikan ikut menormalisasi perilaku tersebut. Ketika seorang siswa sudah berkali-kali menjadi bahan candaan, tetapi orang-orang di sekitarnya terus mengatakan, “Ah, cuma bercanda,” maka masalahnya bukan lagi sekadar tentang satu orang yang melakukan candaan.

Lingkungan tersebut secara tidak langsung dapat memberikan pesan bahwa perilaku itu dapat diterima. Akibatnya, tindakan yang awalnya dianggap sepele dapat berkembang menjadi pola yang terus berlangsung.

Dalam perspektif psikologi, perilaku manusia perlu dipahami berdasarkan konteks, bukan hanya dari satu kejadian. Kita tidak dapat langsung memberikan label tertentu kepada seseorang hanya karena ia melakukan tindakan yang dianggap sebagai bullying. Begitu pula, kita tidak seharusnya langsung menyimpulkan kondisi psikologis korban hanya berdasarkan apa yang terlihat.

Pemahaman terhadap perilaku membutuhkan proses yang hati-hati dan sesuai dengan kompetensi profesional. Hal ini juga berkaitan dengan etika ketika pendekatan psikologi diterapkan dalam lingkungan pendidikan. Profesional yang bekerja dengan peserta didik perlu memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan individu serta menghindari penilaian secara sembarangan.

Ketika ditemukan dugaan bullying, penanganannya seharusnya tidak hanya berfokus pada mencari siapa yang salah. Situasi, relasi sosial, kondisi lingkungan, serta dampak yang dialami oleh pihak-pihak yang terlibat juga perlu dipahami.

Dengan demikian, penanganan tidak sekadar memberikan hukuman, tetapi juga mencegah perilaku serupa kembali terjadi.

Sebagai contoh, seorang siswa mungkin sering dipanggil dengan julukan yang berkaitan dengan kondisi fisiknya. Teman-temannya menganggap hal tersebut lucu dan mengatakan bahwa mereka hanya bercanda.

Pada awalnya, siswa tersebut mungkin ikut tertawa agar tidak dianggap terlalu sensitif. Namun, ketika julukan tersebut terus diberikan setiap hari, ia mulai merasa tidak nyaman dan memilih menghindari lingkungan pertemanannya.

Jika situasi tersebut tetap dianggap sebagai candaan, pengalaman yang dialami siswa tersebut berisiko tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya.

Kasus seperti ini menunjukkan bahwa “tidak bermaksud menyakiti” bukan berarti “tidak memberikan dampak”. Justru ketika seseorang telah mengetahui bahwa perilakunya membuat orang lain tidak nyaman tetapi tetap mengulanginya, alasan “tidak sengaja” menjadi semakin sulit digunakan untuk membenarkan perilaku tersebut.

Oleh karena itu, penting bagi lingkungan pendidikan untuk membangun budaya yang memungkinkan siswa mengatakan bahwa mereka merasa tidak nyaman tanpa langsung dianggap berlebihan atau tidak bisa bercanda.

Di sisi lain, isu bullying juga tidak seharusnya dijadikan alasan untuk memberikan label kepada setiap konflik antarsiswa. Tidak semua perselisihan merupakan bullying. Konflik, candaan, dan bullying perlu dipahami berdasarkan konteks, pola perilaku, hubungan antarindividu, serta dampaknya.

Karena itu, sekolah membutuhkan pemahaman yang tepat agar dapat membedakan persoalan sosial biasa dengan perilaku yang telah berkembang menjadi pola yang merugikan.

Pada akhirnya, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan bahwa bullying itu salah. Lingkungan pendidikan juga perlu mengajarkan mengapa suatu perilaku dapat menyakiti orang lain dan bagaimana seseorang dapat menghormati batas orang lain.

Kalimat “cuma bercanda” seharusnya tidak otomatis menjadi alasan untuk mengabaikan perasaan seseorang. Bercanda seharusnya membuat orang-orang yang terlibat merasa nyaman, bukan membuat satu orang terus-menerus menjadi sasaran.

Karena itu, sebelum mengatakan, “Aku cuma bercanda,” mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu: apakah orang yang menjadi sasaran candaan kita juga merasa bahwa itu benar-benar lucu?

Pos terkait