Oleh: Farhan Rahmadi, S.Ag – Alumni Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir 2025 meninggalkan duka mendalam bagi ribuan keluarga. Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, hingga Aceh Tenggara mengalami dampak signifikan. Rumah terendam, akses jalan terputus, lahan pertanian rusak, dan aktivitas pendidikan terganggu. Sebagian warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Di tengah situasi tersebut, umat Islam memasuki momentum Nisfu Sya’ban, sebuah malam yang secara spiritual diyakini sebagai waktu memperbanyak doa dan istighfar menjelang Ramadan. Pada titik ini, bencana tidak cukup dipahami sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai ruang refleksi keimanan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana seharusnya musibah dimaknai dalam perspektif spiritual?
Al-Qur’an memberikan panduan mendasar dalam memahami ujian kehidupan. Allah SWT berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…” (QS. Al-Baqarah: 155). Ayat ini menegaskan bahwa ujian merupakan keniscayaan dalam perjalanan manusia. Ketakutan akibat banjir, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan orang tercinta adalah bagian dari dinamika hidup yang telah ditetapkan Allah. Namun ujian bukan tanda kebencian Tuhan, melainkan sarana untuk menumbuhkan kesabaran dan memperdalam kualitas iman.
Dalam konteks bencana Aceh 2025, kesabaran kolektif masyarakat, semangat gotong royong, dan kepedulian sosial menjadi wujud konkret respons keimanan. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga mengingatkan dimensi tanggung jawab manusia. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini membuka ruang refleksi ekologis bahwa banjir dan longsor yang semakin sering terjadi tidak dapat dilepaskan dari persoalan lingkungan: alih fungsi hutan, tata ruang yang kurang terencana, serta lemahnya mitigasi bencana.
Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi, pemegang amanah untuk menjaga keseimbangan alam. Karena itu, musibah tidak cukup dimaknai secara teologis semata, tetapi juga harus disikapi secara struktural. Evaluasi kebijakan pembangunan, pelestarian lingkungan, serta penguatan edukasi mitigasi bencana menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.
Di sisi lain, Islam juga menghadirkan perspektif pengharapan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang Muslim tertimpa sesuatu kesusahan, kecuali Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberi penguatan batin bahwa penderitaan bukanlah kesia-siaan di sisi Allah. Bagi mereka yang bersabar dan tetap berpegang pada iman, musibah dapat menjadi jalan peningkatan derajat spiritual. Karena itu, menilai bencana sebagai azab secara tergesa-gesa bukanlah sikap yang bijak. Yang lebih utama adalah muhasabah diri serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Momentum Nisfu Sya’ban mengajarkan pentingnya memperbanyak doa dan istighfar. Di malam yang penuh harap itu, umat Islam bermunajat memohon keselamatan bagi diri dan masyarakat. Namun Islam tidak berhenti pada doa semata. Allah SWT menegaskan, “Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini menempatkan solidaritas sosial sebagai bagian integral dari iman.
Dalam konteks bencana Aceh, solidaritas itu tampak melalui bantuan logistik, relawan evakuasi, dukungan psikososial, serta kerja sama lintas lembaga untuk mempercepat pemulihan. Kehadiran TNI/Polri, relawan kemanusiaan, dan masyarakat sipil dalam distribusi bantuan menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan masih hidup di tengah ujian.
Bencana Aceh 2025 kembali mengingatkan bahwa kehidupan sarat dengan ketidakpastian. Namun sejarah panjang Aceh menunjukkan ketangguhan spiritual dan sosial masyarakatnya. Dari berbagai ujian sebelumnya, Aceh selalu mampu bangkit dengan semangat kebersamaan. Nisfu Sya’ban tahun ini karenanya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum refleksi kolektif: memperbaiki diri, memperkuat solidaritas, serta meningkatkan tanggung jawab terhadap lingkungan. Doa dan ikhtiar harus berjalan beriringan.
Semoga masyarakat yang terdampak diberikan kesabaran dan kekuatan, para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan Aceh segera pulih serta bangkit kembali dengan ketangguhan yang lebih kokoh.
Oleh: Farhan Rahmadi, S.Ag
Alumni Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Ar-Raniry Banda Aceh

